Blogger Layouts

Minggu, 02 Oktober 2011

Problematika Dakwah Dalam Perspektif Komunikasi Profetik

DAKWAH DALAM WACANA KOMUNIKASI PROFETIK A.Problematika Dakwah Banyak akademisi yang masih gamang dengan epistemology ilmu dakwah.Dakwah semakin menyederhanakan diri sebagai praktik oleh suara,seperti ceramah,khotbah,tablig,istigasah,dan sebagaianya.Padahal,dakwah sebagai kajian keilmuan memiliki sejumlah potensi besar menjadi poros lahirnya sejumlah teori komunikasi yang bersifat konstekstual. Charis Jubir memetakan empat hal problematika dalam ilmu dakwah.Pertama,mengenai kedudukan dakwah sebagai ilmu dapat ditemukan pada argumentasi yang dapat menjawab sejauh mana dakwah memilikikriteria sebagai ilmu.Kedua,mengenai kejelasan ilmu dakwah yang dapat dipertanggungjawabkan secara sistematis.Ketiga,negenai metodologi dakwah sebagai ilmu.Keempat,sejauhmana dakwah sebagai ilmu dipertanggungjawabkan produknya sebagai proses logika,yang didalamnya ditemukan keterkaitan antara premis dan kesimpulanya. Ini zamanya industry media merajai kehidupan manusia,dan dakwah berada ditengah pusaran aktifitas industry media tersebut.Tentu saja makna dakwah saat ini harus diformulasikan kembali sesuai dengan perkembangan,kemajuan,dan konteks yang melingkupinya.Dakwah sudah tidak relevan lagi diartikan seperti yang dipahami pada massa awal penyebaran islam beberapa abad lalu.Dakwah menjadi senyawa dengan pengertian jihad dalam arti berjuang dengan kekuatan senjata melawan musuh islam (Qutb,1996:235). Dakwah merupakan gerakan yang mengarah pada transformasi social yang dimulai dari tindakan social.menurut Weber,suatu tindakan disebut tindakan social jika sejauh berdasarkan subjektif yang dilekatkan padanya oleh individu yang bertindak,tindakan itu memperhitungkan tingkah laku orang lain,dan dengan cara itu pelaksanaanya akan terarah (Campbell,1994:204).Weber membedakan antara gerakan social dan tindakan social.Menurutnya,gerakan bukanlah tindakan.Gerakan tidak bersifat memiliki makna subjektif dan objektif,dia tidak terarah dan tidak bersifat empati.Gerakan hanya bergerak tanpa kesadaran utuh,karena tindakan social membutuhkan rencana,sasaran,tujuan,metode yang sistematis,empati,dan terukur. Visi dakwah yang utama adalah bukan memperbanyak jumlah pengikut,melainkan memanggil,mengajak,dan menyeru pada kebenaran Islam melalui berbagai media,perilaku,sikap mental,dan cara berpikir para penyampai agama (Darmawan,2005 :XV).Karena itu juga,dakwah dapat berarti penyegaran atas kebenaran teologis.Dakwah tidak secara mudah diartikan sebagai gerakan penyadaran dan penyebaran atau perluasan Islam. B.Dakwah Dan Propaganda Dakwah mengandung unsure harapan terjadinya perubahan pada diri subjek dakwah.Dengan demikian,dakwah merupakan cara yang paling terbuka menuju suatu perubahan sikap.Perubahan dapat dimaknai dengan perpindahan segala hal yang buruk pada hal yang baik. Dalam dakwah,tidak boleh manipulasi representasi,distorsi informasi atau penyesatan pesan.Hal itu merupakan cara kotor yang biasa digunakan dalam propaganda.Karena itu,dakwah berbeda dengan berbagai pola komunikasi dalam sejumlah kajian ilmu komunikasi.Propaganda dalam artian empiris – sosiologis yang dipahami selama ini,melekatkan propaganda dalam pengertian yang sinis.Hal tersebut terjadi karena kurun waktu tertentu,propaganda digunakan untuk berbagai kepentingan politik,kekuasaan,peperangan dan berbagai pertarungan memperebutkan wacana dan control opini public. Kendati konsep awal propaganda dikembangkan untuk kepentingan penyebaran agama Katolik,pada proses selanjutnya,propaganda telah mengalami berbagai objektivikasi,sehingga dapat diterima secara luas sebagai suatu metode penyampaian pesan.Mengaitkan dakwah dengan propaganda juga tidak terlepas dari proses objektivikasi untuk keduanya.Oleh sebab itu kita tidak perlu risi menggunakan propaganda dalam berdakwah,atau sebaliknya,menggunakan dakwah dalam propaganda. Propaganda dalam arti yang paling luas adalah teknik memengaruhi tindakan manusia dengan memanipulasi representasi (penyajian).Representasi bisa berupa lisan,tulisan,gambar atau music (Severin dan Tankard,2005:128) Namun tidak semua strategi yang diajarkan dalam pendidikan propaganda bertentangan dengan metode dakwah yang dianjurkan dalam Islam.Berikut ini sejumlah praktek yang biasa digunakan dalam pendidikan propaganda,yang sebagian bertentangan dengan cara berdakwah,namun sebagian lain bisa diadopsi untuk improvisasi dalam berdakwah. 1.Name Calling Metode yang digunakan oleh pembicara dengan memberikan label buruk pada suatu gagasan,agar audien menolak dan mengutuk ide tanpa mengamati bukti.Dalam praktik propaganda,Name Calling biasa terjadi dan sah dilakukan. Selain digunakan dalam propaganda hitam (black propaganda),name calling sering digunakan dalam periklanan karena keengganan menyebut produk serupa yang sedang bersaing,namun didalam dunia politk,penggunaanya lebih luas. Name calling tidak dapat dibenarkan dalam berdakwah,termasuk digunakan melawan musuh musuh Islam.Doktrin Islam menegaskan pentingnya menggunakan cara yang baik dalam berbantah bantahan.Sebaliknya,Islam menganjurkan penggunaan kata kata yang baik. 2.Glittering Generality Metode yang digunakan oleh pembicara dengan menggunakan kata yang baik,agar sesuatu dapat diterima oleh audiens,tanpa memeriksa bukti bukti.Pola glittering generality bisa diadopsi secara terbalik untuk memperkaya pola dalam berdakwah.Bila dalam glittering generality yang ditekankan adalah informasi tanpa pengajuan bukti,dalam berdakwah berlaku sebaliknya,menyampaikan sesuatu yang baik hendaknya dengan cara yang masuk akal agar dapat diterima,bahkan bila perlu,menampilkan sejumlah bukti untuk memperkuat materi dakwah. 3.Transfer Metode yang digunakan oleh pembicara dengan membawa otoritas dukungan dan gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain,agar sesuatu yang lain tersebut dapat diterima.Transfer bekerja melalui asosiasi pemikiran.Tujuan komunikator adalah menghubungkan gagasan atau produk dengan sesuatu yang dikagumi orang.Transfer dapat terjadi melalui pemakaian objek simbolik tertentu,karena itu pola transfer dalam teknik propaganda mensyaratkan adanya kondisi psikologi social tertentu.Sebab,pada dasarnya propaganda merupakan aksi penggalangan opini public untuk mengkampanyekan citra negative dari pihak yang diserang. 4.Testimony Testimony semacam kesaksian seseorang yang memberikan pengakuan langsung atas pengalaman yang pernah dirasakanya.Kesaksian tersebut digunakan untuk menjatuhkan atau menggalang opini public agar dapat serta merta menerima sesuatu yang akan ditawarkan. Pola seperti ini jarang digunakan oleh para Kyai dalam memberikan dakwah.Kebanyakan Kyai bertindak sebagai sumber informasi tunggal bagi audiens.Dialog yang terjadi bersifat satu arah,public seakan akan makhluk pasif yang tidak mempunyai ruang untuk berinteraksi,sehingga terjadi dominasi dalam berkomunikasi. 5.Plain Folks (Orang Biasa) Metode yang digunakan oleh pembicara untuk meyakinkan audiens bahwa dia dan gagasanya adalah bagian dari rakyat biasa,rakyat yang lugu.Pola plain folks ini sebenarnya bisa dugunakan dalam berdakwah,terutama bagi mereka yang sebelumnya memiliki pengalaman kedekatan emosional dengan audiensnya. Dalam dunia politik,metode ini sering digunakan oleh para kandidat dalam menghadapi Pemilu.Mereka Down to Earth untuk mengambil hati para konstituen dengan melakukan kegiatan yang sama seperti rakyat biasa,meskipun sebenarnya hal itu tabu mereka lakukan sehari hari. 6.Card Stacking Teknik ini memilih argumen atau bukti yang mendukung sebuah posisi tanpa menghiraukan hal lain yang tidak mendukung posisi tersebut.Teknik ini sesekali dapat digunakan dalam berdakwah untuk memperkaya metode,karena metode ini dapat memperjelas hikmah atau manfaat berbuat baik dan dampak berbuat buruk. 7.Bandwagon Metode ini digunakan oleh pembicara dengan meyakinkan audiens bahwa semua anggota kelompok harus bergabung dengan kelompok tersebut.Teknik ini efektif bagi floating mass,yaitu suatu massa yang bingung akibat derasnya arus informasi. Teknik ini pernah dilakukan dalam dakwah,namun masih bersifat artificial dan tentative.Fenomena sinetron religious dan jilbab modern yang sering dikenakan para artis ditelevisi,pada suatu sisi tetap berdampak positif bagi umat.Tetapio,apakah maraknya sinetron dan artis berjilbab merupakan konstruksi realitas sesungguhnya?.Ternyata tidak,maraknya sinetron religious tersebut terkait dengan rating dan iklan di televisi. Baik dakwah maupun propaganda,sama sama bertujuan mengubah pandangan seseorang terhadap sesuatu.Hanya saja dalam operasionalisasinya,propaganda menggunakan manipulasi representasi,humanisasi dan transendensi.Dia lebih bermakna politis sebagai usaha mengontrol opini public untuk kepentingan politik tertentu daripada sebuah transformasi informasi.bahkan terkadang komunikator (propagandis) dalam operasinya tidak dapat diidentifikasi dengan jelas. C.Dakwah Dan Komunikasi Persuasif Komunikasi persuasive bertujuan mempengaruhi sikap,bahkan perilaku komunikan.Persuasi didefinisikan sebagai perubahan sikap akibat paparan informasi dari orang lain.Menilik tujuanya,komunikasi adalah upaya untuk memengaruhi tingkah laku komunikan.Disini tingkah laku bersifat luas (Severin dan Tankard,2005:57),termasuk didalamnya perubahan sikap seseorang terhadap keyakinan yang dianut sebelumnya. Menurut Gordon Allport (1954),istilah sikap muncul untuk menggantikan istilah samar dalam psikologi seperti naluri,adat istiadat,tekanan social,dan sentimen.Berikut ini beberapa definisi penting mengenai sikap (Severin dan Tankard,2005:177-179) : 1. Suatu cara pandang terhadap sesuatu (Murphy dan Newcomb.1937:889). 2. Kesiapan mental dan system saraf yang diorganisasikan melalui pengalaman,yang menimbulkan pengaruh langsung atau dinamis pada respons seseorang terhadap semua objek dan semua situasi terkait. 3. Sebuah kecenderungan yang bertahan lama,yang dipelajari untuk berperilaku dengan konsisten terhadap sekelompok objek (Allport,1954:45). 4. Sebuah system, evaluasi positif atau negative yang awet,perasaan perasaan emosional dan tendensi tindakan pro atau kontra terhadap sebuah objek social. Menurut Devito (1991:402-404),komunikasi persuasive akan berhasil bila mempertimbangkan prinsip prinsip sebagai berikut : 1. Pemaparan yang selektif Prinsip ini menekankan pada aktivitas komunikan yang secara aktif mencari informasi yang dapat mendukung opini,keyakinan,nilai,keputusan dan perilaku mereka 2. Partisipasi audiens Prinsip ini menekankan bahwa komunikasi bukan hanya proses transmisi pesan,melainkan juga transaksional. 3. Suntikan Prinsip ini berasumsi bahwa audiens telah memiliki keyakinan tertentu yang kuat sebelumnya.Prinsip ini menekankan pentingnya komunikator menghargai keyakinan yang dipegang oleh inoculation principle dengan tidak menolak atau membantah keyakinan mereka,namun menggunakan strategi member antibody,yaitu argument rasional dan pembuktian atas kesalahan keyakinan yang dianut inoculation audiens. 4. Perubahan besar Prinsip ini menekankan pada pandangan bahwa perubahan akan lebih mudah dilakukan pada tahap yang paling kecil,semakin besar argumentasi dan bukti yang harus dipaparkan oleh komunikator.Persuasi akan efektif bila ia bekerja untuk mengubah hal yang kecil dan terukur oleh masa waktu tertentu. Komunikasi persuasive dilakukan setidaknya karena komunikator ingin mencapai dua hal : pertama,memperkuat atau mengubah sikap dan keyakinan penerima pesan.Kedua,member motivasi penerima untuk melakukan sesuatu. Dalam komunikasi persuasive,peranan komunikator sangat penting untuk mencapai tujuan.Howard Giles dan Richard L.Street membagi komunikator menjadi dua kategori besar,yaitu : 1. Perbedaan individu berdasarkan psikologis,dan sosiodemografis yang dikaitkan dengan perilaku verbal dan non verbal komunikator. a) Variable variable psikologis yang dimaksud adalah : (1). Self monitoring. Orang yang memiliki self monitoring tinggi akan mengontrol setiap perilaku verbal dan non verbalnya,begitu pula sebaliknya. (2). Extrovert dan Introvert Tipe extrovert adalah mereka yang suka berbicara dalam suatu waktu.Banyak ahli menggambarkan mereka sebagai orang yeng suka membuka diri.sedangkan introvert sebaliknya,mereka cenderung menutup diri. (3). Dominasi Ketundukan Individu yang berkepribadian dominan memiliki gaya interaksi yang tegas dan percaya diri.Komunikator yang dominan lebih menguasai pembicaraan,lebih aktif yang dikesankan tingginya intonasi suara serta tekanan uratnya melalui system vokalnya. b). Variable variable sosiodemografis komunikator yang dimaksud adalah : (1).Status Sosial Ekonomi Status social ekonomi pihak yang berinteraksi dalam proses komunikasi saling berbaur dan berhubungan.Bamstein (1962,1964,1972) menunjukkan dalam penelitianya bahwa bagi kelas atas,komunikator menggunakan penjelasan dan penguraian pesan yang panjang lebar.Sementara bagi kelas bawah menggunakan pengurangain yang terbatas. (2).Ras dan Budaya Ras dan budaya menyangkut dialek dengan berbagai tingkatan fonologi,sintaksis,dan leksikal yang berbeda.seseorang yang berbicara dengan etnis tertentu biasanya melemah ketika suatu kelompok etnis tertentu memiliki keinginan untuk berasimilasi kedalam budaya yang berbeda. 2.Penggunaan bahasa dan gaya bicara yang diidentifikasikan dengan keyakinan komunikator yang memiliki kesan bahasa yang berbeda. Komunikator yang memiliki daya tarik tertentu yang cukup kuat akan membawa komunikan untuk melakukan identifikasi.Identifikasi terjadi bila komunikan menempatkan diri dalam suatu definisi yang memuaskan dirinya.Dalam identifkasi,individu mendefinisikan peranya sesuai dengan peran komunikasi yang telah memengaruhinya. Sedikitnya ada Sembilan gaya komunikator yang menonjol yaitu : 1. Dominant,menguasai dan mengontrol komunikasi. 2. Dramatic,melebih lebihkan dalam menyampaikan maksud. 3. Contentious,suka mendebat dan berargumen dalam komunikasi. 4. Animated,menyenangkan dalam berkomunikasi. 5. Impression-leaving,selalu meniggalkan kesan dalam komunikasi. 6. Relaxed,bersikap lembut dan tenang dalam berkomunikasi. 7. Attentive,seksama dan berhati hati dalam berkomunikasi. 8. Opened,terbuka terhadap informasi pribadi. 9. Friendly,memberikan umpan balik terhadap lawan bicara. Factor lainya dalam karakteristik komunikator adalah daya tarik khusus dan kreadibilitas.Biasanya,setiap komunikator memiliki daya tarik khusus,terutama bagi Kyai yang berdakwah.Daya tarik tersebut bisa dalam bentuk penampilan fisik,karakter yang ingin dicitrakan,metode pemaparan pesan,dan intonasi. Selain karakteristik komunikator,unsure muatan isi pesan juga member pengaruh besar terhadap keberhasilan komunikasi persuasive.Bettinghaus menetapkan sejumlah komponen yang dapat membuat pesan persuasive : a. Bahasa yang digunakan b. Pola organisasi pesan. c. Penggunaan logika d. Menampilkan contoh e. Waktu penyampaian pesan f. Bahasa tubuh komunikator. Beberapa kalangan memasukkan unsure karakteristik media yang digunakan komunikator dapat menunjang keberhasilan,namun komunikasi persuasive akan sangat efektif bila disampaikan langsung secara tatap muka antara komunikator dan komunikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar